Apa yang akan kamu lakukan ketika hatimu tak lagi bisa mencintai seseorang yang baru karena perasaanmu sudah lama mati dan cinta mu sudah habis di orang lama?
Itu yang saat ini tengah aku rasakan, bukan cuma sekali tapi sudah 2 kali aku membuat pria tulus pergi tanpa merasakan timbal balik dari perasaan itu. Ada penyesalan, tapi bagaimanapun aku juga sakit.
Kali ini, aku mencoba untuk memulai hubungan yang baru, tapi nyatanya aku tidak bisa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Dia laki-laki yang baik, dia laki-laki penuh tawa, dia berusaha untuk mendapatkan hati ini tapi tetap saja rasanya susah sekali untuk membuka hati dengan orang yang baru. Aku memang menerima hubungan itu namun hanya karena aku sendiri kasian dengannya. Aku pernah mencintai seseorang tapi tidak bisa memilikinya, rasanya sakit dan itu alasan aku menerimanya. Aku menghargai kebaikan dan perjuangannya, namun perasaan takut akan karma terus menghampiri pikiranku tapi, bukankah setiap pilihan yang kita ambil akan memperoleh karmanya sendiri?.
Kali ini, aku mencoba untuk memulai hubungan yang baru, tapi nyatanya aku tidak bisa benar-benar jatuh cinta kepadanya. Dia laki-laki yang baik, dia laki-laki penuh tawa, dia berusaha untuk mendapatkan hati ini tapi tetap saja rasanya susah sekali untuk membuka hati dengan orang yang baru. Aku memang menerima hubungan itu namun hanya karena aku sendiri kasian dengannya. Aku pernah mencintai seseorang tapi tidak bisa memilikinya, rasanya sakit dan itu alasan aku menerimanya. Aku menghargai kebaikan dan perjuangannya, namun perasaan takut akan karma terus menghampiri pikiranku tapi, bukankah setiap pilihan yang kita ambil akan memperoleh karmanya sendiri?.
Lalu, apakah aku akan siap untuk hal itu? entahlah....
Tidak apa, jika ternyata kalian menilai bahwa akulah yang jahat, sungguh tidak apa-apa. Aku hanya mencoba menghargai perasaannya.
Untuk kamu laki-laki baik yang saat ini menjadi pasanganku, maaf untuk setiap perasaanmu yang tidak bisa aku balas dengan cinta, maaf jika aku terlalu jahat, maaf jika aku terlalu egois. Terimakasih sudah memberikan yang terbaik, terimakasih sudah menerima aku apa adanya. Terimakasih untuk cinta tulus yang senantiasa kamu tunjukkan kepadaku. Terimakasih ya sudah meyakinkan bahwa aku masih layak untuk dicintai. Hidup lebih lama yaa, aku akan mendoakan setelah cinta pura-pura ini berakhir kamu akan memperoleh perempuan yang mencintaimu dengan tulus sampi akhir hayatnya. Tak apa, jika kamu marah padaku si perempuan yang hatinya sudah mati ini, tapi berjanjilah untuk tidak pernah mati rasa pada oranglain. Kita sama-sama sakit tapi kita masih berusaha saling menggenggam, namun makin erat genggaman itu semakin dalam pula sakit yang kita rasakan. Maaf kalau aku pada akhirnya menyerah, maaf kalau aku memilih untuk melepaskanmu...
Laki-laki baik sepertimu tidak pantas merasakan cinta palsu seperti ini, kamu juga berhak untuk bahagia. Nanti, kalau ternyata kita harus berpisah hiduplah dengan baik seperti sebelum kamu mengenalku, bahagia ya.... janji ya senyum manis itu harus terus merekah...
Jangan khawatirkan aku, aku juga tidak tau bagaimana selanjutnya setelah tidak bersamamu. Entah aku akan menemukan belahan hatiku kelak atau bahkan perasaan mati rasa ini akan abadi sampai maut menjemputku.
Mari menikmati satu tahun kedepan dengan cinta palsu itu. Satu yang kamu harus tau bahwa perlakuan dan tawaku saat bersamamu itu bukanlah pura-pura...
(Pontianak, 29 Oktober 2025)